DAMPAK TRAUMATIS DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR SERTA KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENGATASINYA

oleh Asep Rohiman Lesmana

A. Pendahuluan

1.  Latar Belakang Masalah

Bayangkan betapa menderitanya seorang anak jika ia tidak mampu untuk
mengemukakan atau mengkomunikasikan segala keinginannya atau ia tidak mampu memusatkan perhatiannya untuk belajar. Kondisi ini akan membuat anak mengalami kesulitan di dalam kelas dan mungkin tertinggal dalam satu atau beberapa mata pelajaran tertentu. Tidak hanya anak yang merasa tertekan, orang tuanyapun mungkin akan merasakan kebingungan atas problematika yang dihadapi oleh sang anak. Proses belajar merupakan suatu proses yang berkesinambungan dalam membentuk sumber daya manusia yang tangguh. Sejak bayi dilahirkan, ia sudah mulai dengan proses belajarnya yang pertama yaitu, belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dunia. Hal ini akan berjalan terus sampai anak masuk sekolah dan proses pembelajaran formal mulai diterapkan pada dirinya. Pada saat ini, seorang anak perlu dirangsang untuk mengembangkan rasa cinta akan belajar, kebiasaan-kebiasaan belajar yang baik dan rasa diri sebagai
pelajar yang sukses. Namun demikian, proses pembelajaran tidak selalu berjalan mulus hanya dengan faktor di atas. Kesulitan/Gangguan belajar ( Learning Disorders ) merupakan suatu
kesulitan/gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelengensi seorang anak dengan kemampuan akademik yang seharusnya sudah dapat dicapai oleh anak seusianya.

Hal ini merupakan masalah, baik di sekolah maupun di rumah. Oleh karena, gangguan /kesulitan belajar yang tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan berbagai bentuk gangguan emosional/psikiatrik yang akan berdampak lebih buruk lagi bagi perkembangan kualitas hidup anak di kemudian hari. Dengan demikian kepekaan orang tua dan guru kelas sangatlah membantu dalam deteksi dini kesulitan belajar, sehingga anak dapat memperoleh penanganan sedini dan seoptimal mungkin dari tenaga professional sebelum semuanya menjadi terlambat.

Kesulitan belajar yang terjadi pada seorang anak tidak hanya berdampak bagi pertumbuhan dan perkembangan anak saja, tetapi juga berdampak dalam kehidupan keluarga dan juga dapat mempengaruhi interaksi anak dengan lingkungannya. Sistem keluarga dapat mengalami disharmoni oleh karena saling menyalahkan di antara ke dua orang tua. Orang tua merasa frustrasi, marah, kecewa, putus asa, merasa bersalah atau menolak, dengan kondisi ini
justru membuat anak dengan kesulitan belajar merasa lebih terpojok lagi. Anak dengan kesulitan belajar seringkali menuding dirinya sebagai anak yang bodoh, lambat, berbeda dan keterbelakang. Mereka menjadi tegang, malu, rendah diri dan berperilaku nakal, agresif, impulsif atau bahkan menyendiri/menarik diri untuk menutupi kekurangan pada dirinya.
Seringkali mereka tampak sulit berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, dan lebih mudah bagi mereka untuk bergaul dan bermain dengan anak-anak yang mempunyai usia lebih muda dari mereka. Hal ini menandakan terganggunya sistem harga diri anak. Kondisi ini merupakan sinyal bahwa anak membutuhkan pertolongan segera.

Dari kesulitan belajar siswa itulah yang menimbulkan efek trauma terhadap siswa, siswa jadi malas belajar, jarang mengerjakan tugasnya, susah berteman,

  1. Kasus-Kasus

Anak-anak selalu memperlihatkan kesakitan emosi, demikian juga kesakitan fisik. Ini adalah fakta yang benar dari anak-anak yang pernah mengalami keadaan yang sangat sulit. Mereka menderita luka-luka emosi yang dalam sebagai akibat perlakuan yang kasar dan merugikan yang mereka alami. Kadang2 mereka dipaksa untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mau dilakukan. Anak merasa dihianati oleh orang tuanya dan orang-orang dewasa lain. Mereka merasa tidak ada kepercayaan diri sendiri karena hidup lingkungannya, maupun struktur-struktur dan aturan-aturan hidupnya hancur. Lagi pula, banyak anak merasa bersalah, karena mereka tidak berdaya menghentikan segala sesuatu yang telah terjadi. Luka-luka emosi ini mengakibatkan anak tidak hidup bahagia, dan tidak mempunyai harapan untuk masa depan. Sebagai pendamping, kita harus mencari jalan untuk menolong anak-anak supaya luka-luka emosi mereka dapat sembuh.

selengkapnya silahkan download di sini

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: