PENGANTIN DALAM CITA

Selamat pagi dunia !!

Akhirnya aku dapat mencicipimu dengan sempurna. Menciumi udara dengan raga tak bercela. Lalu menangis sebagai syukur atas semua yang ada. Beribu harapan dan doa berpilin jadi satu menutup langit. Semoga semua tak sia-sia.

Aku diciptakan untuk mengisi bumi bukan tanpa tujuan. Sekarang, aku disini dalam rangka meringankan tugas itu. Hari ini adalah pertama kalinya aku merasakan lembutnya sang fajar lalu tersenyum dibawah kehangatannya.

Mataku tertuju pada sebuah rumah. Di dalamnya ada seorang ibu yang mempertaruhkan sebagian jiwa demi anak yang telah dinantinya. Dibantu seorang nenek yang sejak tadi kebingungan karena sang jabang bayi enggan keluar dari kenyamanan rahim sang ibu. Ayahnya tak kalah tegang, keringat sebesar buah lengkeng terus saja membasahi wajahnya.

1 sebutan bagi pelaku bom bunuh diri

Kakinya seakan enggan berdiam diri dan terus saja mondar-mandir di depan pintu sebuah kamar. Satu jam sudah ia bergelut dengan ketegangan ini.

Sampai akhirnya sebuah tangisan memecah pagi pertamaku itu. Membuyarkan ketegangan semua orang. Dan detik berikutnya menghadirkan atmosfir kebahagiaan. Kumandang adzan menggema mengulum doa. Itulah hari bersejarah yang dilewati sebuah keluarga. Menanti bayi pertama yang meramaikan keluarga mereka. Dan aku menyaksikan itu semua di atas pohon mangga, di sela-sela ranting dan daun yang rimbun, di depan rumah mereka. Sembari mengucap janji akan terus berada disini mengawasi setiap langkah dan menceritakannya pada semua orang.

Hari terus beranjak. Matahari dan bulan bergantian menjaga bumi dengan begitu teratur. Bayi itu sudah menjadi seorang anak, anak yang cerdas dan mempesona. Keingintahuannya akan dunia tak terbendung. Ia bertanya tentang berbagai hal, misalnya “Ayah kenapa pohon mangga itu tinggi sedangkan pohon kencur pendek ?” “Mengapa siang begitu terang sedang malam begitu gelap?” Dan pertanyaan tentang keyakinanpun ia lontarkan diusianya yang belum genap 7 tahun itu. “Mengapa ada Tuhan dan ada ibadah?” Ayahnya hanya memberikan jawaban yang sederhana. “Pohon mangga itu memeng seharusnya tinggi nak, kalau pohon mangga seperti pohon kencur maka buahnya tidak akan berkembang.” “Siang dan gelap itu ada agar manusia mempunyai waktu untuk istirahat di malam hari nak.” “Tuhan itu ada karena Dia-lah yang menciptakan kita dan ibadah itu sebagai kewajiban kita.” Tentu saja ia tidak puas dengan jawaban yang diberikan ayahnya, tapi saat itu ia hanya mengangguk. Ia tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan bukan pengetahuan. Biasanya seorang laki-laki selau berada di masjid sebelum ayam berani berkokok untuk menunggu subuh, maka ia pin melakukan itu.

Sekarang dia tidak lagi menjadi anak satu-satunya di keluarga mereka. Adik perempuannya lahir 2 tahun setelah ia dilahirkan. Lalu 4 tahun kemudian ibunya melahirkan bayi kembar laki-laki. Jadilah dia putra sulung yang harus serba-bisa. Tapi ia tidak merasa terbebani ataupun lelah dengan semua tanggung jawab yang ia terima di usianya yang masih dibilang belia. Suatu hari adik perempuannya pulang dengan menangis, adiknya tersebut menyendiri di kamarnya seharian. Itu membuat dia begitu khawatir. Setelah didekati, akhirnya ia bercerita kalau ia diolok-olok temannya karena tidak mempunyai pensil yang penghapusnya berbentuk boneka. Hatinya terasa perih tersayat. Keluarganya memang sederhana, tapi ia tak pernah malu ataupun benci. Ia selalu bersyukur atas semua yang diberikan kepadanya. Tapi hari ini, saat usianya baru 12 tahun, keyakinan itu mulai luruh. Luhurnpa oleh air mata sang adik. “ Tenanglah dik, jangan menangis karena olokan. Mereka itu iri kepad kita karena kita dapat membuktikan tanpa pensil mahal kita masih bisa menulis lebih baik dari mereka.” Lalu dia mendekap adiknya dengan penuh rasa sayang. Akupun ikut meneteskan air mata saat itu.
Beberapa bulan kemudian, topan itu datang lagi mengunjungi hatinya yang rapuh. Ayah yang menjadi suri tauladan, guru dan kebanggaan kini pergi untuk selamanya. Saat itu ia ingin melebur bersama sang ayah jika tidak ingat ibu dan adik-adiknya. Ia menegarkan diri dengan bersujud di atas sajadah tua sang ayah. Walaupun tanpa sang ayah, ia yakin bisa terus bersekolah. Terus bekerja membantu ibu yang kini menjual sayur mayur. Berkeliling dari subuh hingga siang. Setelah itu menjadi buruh cuci di rumah-rumah tetangga. Hingga mereka berempat bisa bersekolah.

Sekarang dia bekerjasama dengan ibu menjadi tulang punggung keluarga. Walaupun ibu yang paling memegang peranan penting. Tahun ini usianya 15 tahun dan ia akan masuk ke sekolah menengah atas. Remajalah dia. Tutur katanya semakin halus, tingkahnya semakin menyenangkan. Ia menjadi seorang aktifis yang paling dikenal oleh guru-guru. Teman-temannya selalu menghormati setiap keringat yang jatuh dari dahinya karena mereka tahu keringat itu adalah semangat yang tak mereka miliki.

Suatu hari, di malam yang riang oleh orchestra para jangkrik, ibunya mengajak ia bicara. Saat itu mataku hampir terpejam dibuai indahnya music malam. “ Nak, sebentar lagi kamu akan lulus dari SMA, sedangkan ibu tidak mampu membiayaimu melanjutkan sekoloah. Jadi apa yang akan kamu lakukan?” Dengan getir ibu memulai perbincangan itu. “Tidak apa bu, saya akan berusaha mencari jalan keluar terbaik. Ibu tidak perlu memikirkan saya.” Sebenarnya jawaban itu terlontar karena ia juga tidak tahu akan seperti apa hidupnya setelas lulus nanti.

Dalam kebimbangan, seseorang menawarkan ketenangan hati. Jiwanya tak melirik sedikitpun tawaran itu. Ia tidak yakin. Karena selama ini ia merasa berada dalam kepalsuan hidup. Ia disegani, disayangi, dan dibanggakan karena ia berusaha menjadi orang lain yang lingkungan inginkan. Tapi tawaran kali ini berbeda, ia ditawari ketenangan lewat apapun yang ia inginkan. Pemahaman-pemahaman dalam hidupnya telah berubah dalam hitungan bulan. Ia dijejali pemahaman agama yang keras. Menafsirkan semua dengan peperangan fisik. Membenci musuh dengan dendam. Dengan dalih “kebenaran agama” ia khusuk mengikuti ejaran yang menjanjikan ketenangan. Kepulangannya menjadi hal yang langka. Namun sikapnya semakin baik pada keluarga maupun tetangga. Ia semakin disayang.

Setelah pendidikan SMA-nya selesai, ia mohon izin pada ibunya untuk tinggal bersama “guru” di ibu kota. Ia meyakinkan sang ibu bahwa itulah jalan terbaik untuknya. Dengan linangan air mata ibu tak bisa menolak keinginginan sang anak. Ia hanya berpesan, “Jadilah manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama ya nak!” Pesan lumrah semua orang tua. Dan dia hanya membalas dengan senyum tipis.
Pergilah ia bersama “guru”. Aku bersama keluarga dan tetangga yang menyayanginya hanya bisa berdiam diri melepas putra kesayangan kami. Aku terbang menguapkan segala rindu.

Suatu pagi, seorang perempuan di layar kaca memberi tahu kami bahwa di ibu kota, dalam sebuah restaurant cepat saji, telah terjadi ledakan bom yang sangat dahsyat. Saat itu diketahui bahwa 9 orang tewas dan 20 orang lainnya luka berat. Evakuasi belum selesai dilakukan dan diperkirakan peristiwa ini adalah bom bunuh diri dari kelompok teroris yang selama ini diincar kepolisisan. Ibu yang menyaksikan berita tersebut mengelus dada tanda prihatin sekaligus merasa tak nyaman dengan pemberitaan itu. Ia takut anaknya menjadi korban dari peristiwa tersebut.

Empat hari setelah peristiwa ledakan tersebut, diketahui bahwa korban meninggal ada 47 orang, 30 orang warga pribumi dan 17 orang warga negara asing. Sedangkan korban luka-luka lebih banyak lagi, 54 orang dikabarkan mengalami luka berat maupun ringan. Dan dipastikan kejadian ini merupakan bom bunuh diri. Lalu layar televisi menampilakan foto pelaku bom bunuh diri yang sudah hancur. Namun tidak kalah hancur dengan hati ibu yang mengenali foto remaja tersebut. Dia adalah putra yang selalu disayanginya. Dirindukannya dan diharapkan dapat membuat ibu pertiwi bangga akan kehadirannya. Kini, doanya luruh dibakar bom. Jiwanya retak diguncang ledakan. Harapannya menguap bersama kepulan asap. Ibu kecewa, menangis dan diam.
Esoknya beberapa orang polisi datang ke rumah, meyakinkan bahwa pelaku benar-benar putra ibu. Putranya disiapkan “guru” sebagai seorang “pengantin”.
Selesailah semua cerita. Begitu pula dengan aku yang mati. Sebuah cita yang tak pernah jadi nyata. Yang lahir bersama nyawa. Juga hilang karenanya. Itulah aku.

Cianjur, 18 Oktober 2009
MWS

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: